Back to @GWirjawan's profile

Gita Wirjawan engagement report

@GWirjawan - 913K followers on X

Measured over 10 original posts from a 30-day window, last computed on October 22, 2026.

Engagement

Middle of its size range
Per follower
0.018%
of 913K followers
Per impression
1.68%
9.6K views on a typical post
Reach
1.06%
of its followers see a post
Typical post
162
interactions (median)
Saved
0.14%
14 bookmarks on a typical post
Posting rate
0.5/day
active 27% of days
Peak time
06:00 UTC
Friday

A typical post picks up 162 interactions against 913K followers, an engagement rate of 0.018%. Measured over 10 original posts, its engagement rate beats 42% of 20,444 tracked accounts of a similar size, which puts it in the middle of its size range rather than at either end. Posts are seen about 9.6K times each, and 1.68% of those impressions turn into an interaction. That is about 1.06% of the follower count, which is the gap between an audience on paper and an audience in a timeline. Posting runs at about 0.5 post a day over the last 30 days, though only 27% of days saw any activity at all. Most posts go out around 06:00 UTC, and Friday is the busiest day of the week. Of the 10 posts sampled, 90% carry an image or video, 40% are part of a thread and 10% link out. The account's strongest tracked post pulled 2.7K interactions, about 25x its own typical post.

Measured over 10 original posts from a 30-day window, last computed on October 22, 2026.

Compared with accounts its own size

Gita Wirjawan's engagement rate beats 42% of the tracked X accounts closest to it in follower count (20,444 accounts, accounts of similar size (decile 10 of 10)). A percentile is spread evenly by construction, so 50 really is the middle of that group and 90 really is its top tenth.

On engagement per impression rather than per follower it beats 62% of the same group. When those two numbers disagree, the gap is about how far its posts travel rather than how people react to them.

Where this sits in the catalog

At 0.018%, Gita Wirjawan sits above the 10th percentile of the 204,880 accounts in this comparison. That places it in the bottom 25% band, which runs below 0.024%.

p100.004%
p250.024%
p50 (median)0.143%
p750.678%
p902.55%
p9982.4%
Engagement rate as a share of followers, across the 204,880 accounts we have scanned enough to measure. The axis is logarithmic, because the top and bottom of this population are about 22,891 times apart and a linear axis would flatten everything below the median into a single point.
Show the percentile table
Engagement rate percentiles
PercentileEngagement rate
10th percentile0.004%
25th percentile0.024%
50th percentile0.143%
75th percentile0.678%
90th percentile2.55%
99th percentile82.4%

This ruler is the whole measured catalog, not a size-matched group: it shows where the raw rate falls across every account we can measure, all of which are large. For a like-for-like comparison, read the size-band percentile above instead. See how the bands are built

Posting timing

This account posts most often around 06:00 UTC, and Friday is its busiest day of the week. The bars below are the catalog-wide pattern, with this account's own busiest slot marked. They do not show how this account performs at each hour: we keep one aggregate per account, not one per hour, so that measurement does not exist in our data.

Engagement by hour posted, UTCTwenty-four bars, one per UTC hour. Each bar shows how posts published in that hour compare with their own authors' median engagement. Bars above the centre line ran higher than the median, bars below ran lower. A marker flags Busiest hour: 06:00 UTC.
0003060912151821
Above the authors' own mediansBelowScale: plus or minus 111%Busiest hour: 06:00 UTC
Show engagement by hour posted, utc as a table
Engagement by hour posted, UTC
Hour (UTC)Vs author medianPosts
00:00 UTC-1%89K
01:00 UTC-2%90K
02:00 UTC-3%88K
03:00 UTC-4%94K
04:00 UTC-5%76K
05:00 UTC-4%75K
06:00 UTC-5%86K
07:00 UTC-5%93K
08:00 UTC-4%108K
09:00 UTC-4%124K
10:00 UTC-3%129K
11:00 UTC-3%141K
12:00 UTC-3%154K
13:00 UTC-3%167K
14:00 UTC-4%173K
15:00 UTC-2%176K
16:00 UTC-3%171K
17:00 UTC-3%159K
18:00 UTC-2%149K
19:00 UTC-2%141K
20:00 UTC-1%131K
21:00 UTC0%116K
22:00 UTC-2%100K
23:00 UTC-1%90K
Engagement by day of weekSeven bars, one per weekday, Sunday first. Each bar shows how posts published on that day compare with their own authors' median engagement. Bars above the centre line ran higher than the median, bars below ran lower. A marker flags Busiest day: Friday.
SunMonTueWedThuFriSat
Above the authors' own mediansBelowScale: plus or minus 111%Busiest day: Friday
Show engagement by day of week as a table
Engagement by day of week
DayVs author medianPosts
Sunday+5%393K
Monday+1%483K
Tuesday-2%520K
Wednesday-3%472K
Thursday-2%430K
Friday-3%447K
Saturday+2%393K
See what moves engagement across the whole catalogWhat counts as a good engagement rate at this size

Formats this account uses

Its own posting mix on the left, and what each of those formats does across every account we track on the right. Only formats where the effect clears our publish test appear here, so an empty row is a format we could not measure rather than one that does nothing.

This account's posting mix compared with catalog-wide effects
FormatThis accountCatalog effect95% intervalAccounts behind it
Image or video90% of posts+111%+108% to +115%34K
Outbound link10% of posts-41%-42% to -40%32K
Typical length-+15%+14% to +16%32K
  • 90% of this account's sampled posts carry an image or video. Across the catalog, posts with an image or video run 111% above the same accounts' other posts.
  • 10% of its posts carry a link off X. Across the catalog, posts with an outbound link run 41% below the same accounts' other posts.
  • Its average post runs 1618 characters, which falls in the over 280 characters band. Across the catalog, posts over 280 characters run 15% above the same accounts' other posts.

These are catalog-wide differences applied to this account's own posting mix, not a measurement of how each format performs for this account specifically. We keep one median per account, not one per format per account, so the second thing is not something this data can tell you.

Best tweets

  • Jun 13, 202625x their median

    80 mahasiswa Indonesia di Harvard, dibanding Tiongkok yang lebih dari seribu dan ratusan dari Korea. Dalam gambaran lebih luas, hal serupa terjadi. Pada 2023, Tiongkok mengirim sekitar 1 juta mahasiswa ke luar negeri, India sekitar 800 ribu, sementara Indonesia hanya 70 ribu mahasiswa. Dan kalau kita lihat lanskap politik Indonesia, 88% kepala rumah tangga & 93% orang dengan hak untuk memilih tidak memiliki pendidikan tinggi. Angka di atas menunjukkan gejala dari masalah struktural, yang selama ini tidak berhasil membebaskan kita dari middle income trap. Bahwa skor IQ bangsa masih jauh di bawah yang dibutuhkan. Pertanyaannya bagaimana kita bisa membawa skor itu naik?

    2.0K5188747221K viewsView on X
  • May 20, 20269.5x their median

    22 years of silence. One legendary unbeaten season that nobody has ever matched. And now they’re back to change the game, once more. Olé! https://t.co/KHYjT5rUfJ

    1.5K577453930K viewsView on X
  • May 17, 20268.5x their median

    Keputusan pemerintah harus dihormati. Namun dalam demokrasi, ia tidak luput dari komentar maupun kritikan. Di satu percakapan dengan Nadiem, Ia pernah bilang bahwa dirinya bekerja untuk kepentingan generasi berikutnya. Ia masuk dengan sebuah blueprint dan impian: membangun ulang lingkungan bagi ratusan ribu siswa dan guru, membangun kembali pondasi dari mana sebuah bangsa belajar. A revolutionary in the making. Saya mengenal keluarga Makarim selama puluhan tahun. Dalam semua waktu itu, di seluruh anggotanya, ketidakberesan tidak pernah menjadi sesuatu yang saya saksikan atau rasakan. Tidak sekali pun. Nadiem selalu menjadi, sejauh yang saya tahu, persis seperti apa yang ia katakan hari itu: seseorang yang bekerja untuk masa para penerus bangsa yang belum bisa bersuara. Setahun tujuh bulan kemudian, kita ada di sini. Kesalahan Nadiem mungkin adalah bahwa kenaifannya disalahpahami sebagai kurangnya rasa hormat terhadap memori institusional (kebiasaan sebuah lembaga dalam pola komunikasi, kerja, dan koordinasi yang telah mengakar puluhan tahun). Kenaifan ini tidak unik. Ia niscaya akan menjangkiti siapapun dari luar yang diminta atau ingin berkontribusi untuk bangsa dan negara. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa keputusan pemerintah telah dan akan berdampak pada beberapa hal yang cukup struktural: 1.⁠ ⁠Proses penegakan hukum dan translasi ketidakpastian menjadi risiko. Bayangkan Anda hendak berinvestasi ke sebuah negara di mana hukumnya tidak jelas — di mana pendiri unicorn pertama Indonesia harus menghadapi 18 tahun atas dasar konstruksi hukum yang sulit dipertahankan oleh banyak ahli hukum. Pertanyaannya bukan lagi "Apakah Nadiem salah atau tidak?" Tapi: "Apakah ini tempat di mana kita bisa membangun?" Ketika hukum tidak memberikan kepastian, negara kehilangan kemampuannya untuk mengukur dan mengomunikasikan risiko kepada dunia luar. Ketidakpastian hukum adalah risiko yang tidak bisa dipricing — dan modal global tidak bersedia tinggal di tempat yang tidak bisa menjawab pertanyaan paling dasar: seberapa besar risikonya, dan siapa yang terlindungi ketika jawabannya tidak jelas? ⁠2. Pengedepanan inovasi teknologi. Pelajaran yang paling mudah diserap dari sidang ini adalah: main aman. Jangan punya keyakinan. Jangan berinovasi. Pilih yang paling aman secara administratif, bukan yang terbaik. Ketika pilihan teknologi bisa dijadikan dakwaan, ketika gagasan baru bisa menjadi jebakan, tidak ada ruang lagi bagi ide untuk tumbuh, inovasi untuk dipeluk, atau perubahan untuk disambut. Yang tersisa hanyalah birokrasi yang memilih selamat atas segalanya. Bahwa konformis adalah postur yang paling aman di dalam sistem. 3.⁠ ⁠Masa depan talenta bangsa. Yang paling fatal: kasus ini menjadi jera bagi mereka yang seharusnya melanjutkan bangsa ini. Bahwa seseorang yang berpendidikan, yang berniat baik, yang berani mencoba membangun dari nol akan dimuntahkan mentah-mentah oleh negara yang berusaha ia tolong. Platform ini dibangun untuk mendiskusikan ide, bukan peristiwa. Namun episode yang kita saksikan tidak lepas dari sesuatu yang katalitik, untuk kepentingan nation building ke depan. Dan kualitas itu, keinginan untuk memperbaiki sistem yang mungkin belum berkenan, mendongkrak edukasi bangsa, adalah salah satu yang paling langka di sebuah birokrasi. Menjadi tragedi tersendiri ketika upaya mengintelektualisasi bangsanya, menjadi batu rajam untuk dirinya sendiri. No one is perfect. May the great force be on the right side of history.

    1.3K48514241457K viewsView on X
  • Aug 17, 202611x their median

    Bayangkan seorang anak brilian, lulusan terbaik dari Sleman. Ia ditawari mengajar di kampung halamannya. Gajinya tiga juta. Di saat yang sama, ada tawaran di tempat lain dgn gaji lima puluh juta. Kita semua tahu ke mana ia akan pergi. Dan di situlah letak persoalannya. Panggilan jiwanya mungkin masih ada, tapi ekosistem dan sistem tidak memungkinkannya. - Median gaji guru di Indonesia belum bisa mencukupi keberlangsungan hidup. Di Singapura, angkanya menyentuh Rp70 juta. Korea Selatan merekrut gurunya dari 5% lulusan terbaik. Singapura, dari 20% teratas. - Sebab kualitas pendidikan sebuah bangsa tidak akan pernah melampaui kualitas gurunya. Dan tugas seorang guru bukan sekadar mengajar rumus. Ia harus bisa menyuntikkan tiga hal: imajinasi, ambisi, dan keberuntungan yang dijemput. Mengingat evolusi yg semakin exponential, baik geopolitik, ekonomi, teknologi, maupun iklim. Semakin produk pendidikan kita, terutama mereka yang berkecimpung di hubungan internasional, harus punya deksteritas geopolitik: kemampuan berayun ke kekuatan-kekuatan besar, termasuk Tiongkok, Amerika Serikat, dan Rusia. - Lalu salah satu pertanyaan dari murid SMP yang menunjukkan bahwa, masalahnya bukan hanya pada guru-nya. Ia bertanya: bagaimana mental anak yang tertekan bisa menjadi jernih? Pertanyaan itu membawa kita pada satu paradoks zaman ini. Teknologi memang telah mendemokratisasi banyak hal, tapi yang terdemokratisasi baru informasi, belum ide. Daron Acemoglu, dalam Power and Progress, mengingatkan: kemajuan teknologi tidak otomatis berkorelasi dengan distribusi peningkatan kesejahteraan manusia. - Media sosial menyebarkan informasi, tapi bukan selalu gagasan. Yang tumbuh justru polarisasi, dan pada anak-anak muda, amnesia historis. Terlalu lekat dengan kekinian, dan terlepas dari sejarah. Jonathan Haidt mengaitkan ini langsung dengan meningkatnya anxiety dan depresi pada generasi muda. - Maka jawabannya tidak berhenti pada membatasi layar. Bahwa penting utk membudayakan kembali diskursus ide. Di meja makan, di tempat tongkrongan, di ruang-ruang tempat kita berkumpul. Karena selama internet hanya mendemokratisasi informasi dan bukan ide, percakapan kita hanya akan semakin keruh. Kalau jalan keluar itu kita temukan, barangkali di situlah kita mulai bisa membayangkan sebuah bangsa, sebuah kawasan, yang jauh lebih keren ke depannya. Tanpa itu, nihil.

    1.3K434261669K viewsView on X
  • Jul 29, 20269.1x their median

    Saya ditanya: support dosen dan guru, atau bangun 30.000 MW lebih dulu? Saya pilih dosen dan guru. Sebenarnya karena satu hal: saat ini teknokrasi dan meritokrasi adalah spesies yang terancam punah. Kenapa?  Kalau kita bandingkan 30 tahun terakhir, pendapatan per-kapita Tiongkok naik 10 kali lipat. Asia Tenggara hanya sekitar 2,7 kali. Ada lima atribut di balik ketertinggalan ini: (1) Kita cenderung menyeleksi talenta berdasarkan loyalitas, bukan meritokrasi. 
(2) Kurangnya titik temu yang optimal antara talenta dan kekuasaan. 
(3) Kurangnya daya saing, tercermin dari izin usaha kita yang hanya 0,3 per 1.000 orang dewasa, dibanding Tiongkok dan Singapura yang mencapai 8-10. 
(4) Model pembangunan yang sentripetal, menarik segalanya ke pusat, sehingga ketimpangan kekayaan dan pendapatan makin lebar dan oligarki makin difasilitasi. 
(5) Dan yang paling fundamental: kurangnya investasi di pendidikan. Karena tanpa reformasi untuk kepentingan gaji guru atau kompensasi, saya nggak melihat Indonesia, atau sebagian besar dari Asia Tenggara, bisa menuju ke arah keemasan.  Kita harus menyadari bahwasanya IQ manusia itu bisa berkembang sampai umur 16 tahun. Tapi setelah umur 16 tahun, yang paling penting untuk mengembangkan manusia itu adalah keterbukaan. Keterbukaan itu sangat foundational untuk bisa mengkombinasikan antara kekuatan inovasi dengan kekuatan preservasi. Saat perkembangan otak seseorang tidak optimal, bisa dikompensasi dengan kualitas guru. Di sinilah benang merahnya. Kemampuan kita memilih dengan basis seleksi, bukan sekadar elektabilitas, sangat bergantung pada kemampuan kita berpikir. Kemampuan berpikir itu dibentuk oleh guru. Ini pula yang berkorelasi dengan kemampuan kita membangun ekosistem yang memadai untuk 30.000 MW. Karena tanpa kualitas guru yang membuahkan SDM yang mumpuni, sebesar apa pun kapasitas yang kita bangun, hasil jangka panjangnya tidak akan tahan lama. Dan jika resah menunggu gerakkan top-down, maka mungkin kita harus perbanyak bottom-up kan perubahan sosial ini. Perbanyak diskusi entah di tempat tongkrongan, tempat ibadah, puskesmas, atau di meja makan rumah sendiri. Dan yang kita perbanyak sebaiknya diskursus ide, bukan sekadar fenomena. Karena selama percakapan kita hanya berhenti pada sensasi dan peristiwa yang datang dan pergi, kita tidak akan pernah beranjak. Tapi ketika kita mulai membiasakan diri berdiskusi tentang gagasan, di situlah inkrementalisme kecil hari ini bisa membuahkan lompatan besar suatu hari nanti.

    997416392649K viewsView on X
  • Jul 11, 20254.0x their median

    Menulis sebuah buku rasanya terkesan asing, seakan sesuatu yang jauh dari kegiatan saya sehari-hari. Namun setelah lima tahun perjalanan Endgame, lebih dari 200 percakapan dengan tokoh lintas bidang, dari para narator nasional hingga pemikir dunia, dan berbagai dorongan dari orang-orang terdekat —segala keresahan dan harapan akhirnya terkulminasi dalam satu karya yang baru saja rampung saya tulis. Keresahan yang kerap kita lihat dari lanskap global yang makin terpecah, membuat muncul banyak pertanyaan: Apakah kawasan dengan 700 juta penduduk, ekonomi terbesar ke-enam di dunia senilai US$ 4 triliun, yang kaya dan beragam namun telah mampu menjaga perdamaian dan stabilitas selama ratusan tahun, akan tetap berada di luar kesadaran global? Tidakkah kita bisa bernegosiasi dengan sejajar, bukan hanya mengikuti perintah? Bahkan menjadi diplomat dunia, penjembatan dunia—sebuah contoh dari kawasan yang telah mahir hidup berdampingan secara damai antar tetangganya selama berabad-abad. Melalui buku ini, saya mencoba menelusuri berbagai dimensi yang saling terhubung: sejarah, ekonomi, pendidikan, keberlanjutan, hingga teknologi seperti kecerdasan buatan dan internet. Untuk mempertanyakan, dari titik mana kita bisa memulai perjalanan ini? Buku ini saya tujukan bagi teman-teman muda, penerus harapan kawasan kita, yang mungkin selama ini merasa jauh dari diskusi semacam ini. Kalau setelah teman-teman baca dan mulai muncul satu saja ide baru, satu pertanyaan baru, atau satu tekad kecil untuk memperbaiki kota, provinsi, atau bahkan kawasan ini—itu sudah cukup untuk saya. Dan jika apa yang saya tulis bisa menyulut gerakan, sekecil apa pun, demi masa depan kawasan kita, itu menjadi anugerah besar bagi saya. Jam 5 sore ini, saya berbagi sedikit cerita dan refleksi seputar buku ini. Silahkan bergabung dan menyimak, jika berkenan. https://t.co/Hf0lX7dTrG Terima kasih sedalam-dalamnya atas dukungan teman-teman selama ini. Let the journey continue.

    5583053217106K viewsView on X
  • Oct 20, 20265.6x their median

    A reflection from recent happenings. https://t.co/SMN6FYOhUQ

    673209131622K viewsView on X
  • Sep 9, 20265.0x their median

    A blunt truth from 2025 PISA study. Across all categories, - China leads the world at 574, - Singapore’s rank drops to second, at 555. And if we break down across Southeast Asia: - Only Singapore, Vietnam, and Brunei that are above the world’s average (at 436,9) - Across 91 countries, Thailand, Malaysia, Indonesia, Philippines, and Cambodia sits outside the top 50% Across the last four cycles, from 2012 to 2022, most of the region has stagnated or slipped backward. - Vietnam fell from 516 to 468. - Thailand from 437 to 394. - Indonesia from 384 to 369. - Only Singapore kept climbing, from 555 to 560 (excluding this year). Such a summary of our progress (or lack thereof), while China continues to advance alongside its rapidly growing economy. How’s this not a call to action for better investment in educational attainment?

    570193182430K viewsView on X
  • Sep 6, 20264.8x their median

    Ada satu paradoks yang menarik soal multilateralisme. Justru di era unipolar, pasca-runtuhnya Tembok Berlin hingga awal 2000-an, multilateralisme berjalan paling maju. Sebab ada satu kekuatan, Amerika Serikat, yang cukup dominan untuk mendikte aturan main kepada dunia. Hari ini, dengan AS yang kian isolasionis dan perselisihannya dengan Tiongkok yang meruncing, multilateralisme justru meredup. Lembaga-lembaga globalnya kehilangan taring, karena tak lagi ditopang oleh konsensus kekuatan tunggal. Dan konflik-konflik terakhir, Gaza, Levant, Iran, Ukraina, mengkristalkan sesuatu yang lebih dalam. Ia menegaskan lahirnya multipolaritas baru yang sangat revisionis. BRICS mengonsolidasi diri dengan agenda merombak tatanan yang selama ini dikedepankan Barat. Dan semangat itu menjalar ke kekuatan menengah lain, termasuk Turki, Meksiko, Nigeria, bahkan Indonesia, yang ingin tatanan itu lebih adil bagi Global South. Yang tadinya cair kini mengeras. Decoupling ekonomi AS dan Tiongkok memaksa multipolaritas menjadi jauh lebih terstruktur. Terlihat jelas: siapa kawan, siapa lawan, dan siapa yang berperan sebagai swing state. Gejolak ini juga menaikkan premi risiko global. Para pemilik modal Barat, yang mengelola likuiditas sekitar USD 140 triliun, berkepentingan menggeser modalnya keluar dari titik-titik konflik menuju kawasan yang lebih aman, seperti Asia Tenggara. Dengan satu syarat: kepastian hukum. Dan di sinilah peluang kita. Dunia yang retak membutuhkan interlokutor yang tepercaya. Asia Tenggara punya modal untuk itu. Dalam 2.000 tahun terakhir, konflik di kawasan kita merenggut kurang dari 10 juta jiwa, jauh di bawah Eropa yang mencapai ratusan juta. Dengan bentang 5.000 km, 700 juta jiwa, dan kekuatan ekonomi kolektif nomor lima dunia, kita cukup mumpuni untuk menjadi jembatan. Antara Barat dan dunia Islam. Antara Barat dan Tiongkok. Dunia sedang mencari penengah. Modalnya sudah ada di tangan kita. Yang belum, barangkali, hanyalah keyakinan bahwa kita memang layak duduk di meja itu. @dinopattidjalal @fpcindo

    63712213827K viewsView on X
  • Aug 25, 20264.0x their median

    Sustained consistency is a more telling measure than a single championship win. A big win for Indonesia, congratulations @jonatan979 on becoming world’s number 1 player. https://t.co/QExf0afp8G

    475152141037K viewsView on X

Ranked by total interactions across everything we have tracked for this account, which is a longer history than the 30-day window the rates above use. The multiple compares each post to this account's own median.

Buy or sell Twitter (X) accounts - escrow-protected

PlayerSells is an escrow marketplace for Twitter (X) accounts. Every deal is protected, with no middleman risk.

Reading these numbers

A typical post picks up 162 interactions against 913K followers, an engagement rate of 0.018%. Measured over 10 original posts, its engagement rate beats 42% of 20,444 tracked accounts of a similar size, which puts it in the middle of its size range rather than at either end. Posts are seen about 9.6K times each, and 1.68% of those impressions turn into an interaction. That is about 1.06% of the follower count, which is the gap between an audience on paper and an audience in a timeline. Posting runs at about 0.5 post a day over the last 30 days, though only 27% of days saw any activity at all. Most posts go out around 06:00 UTC, and Friday is the busiest day of the week. Of the 10 posts sampled, 90% carry an image or video, 40% are part of a thread and 10% link out. The account's strongest tracked post pulled 2.7K interactions, about 25x its own typical post.

What is Gita Wirjawan's engagement rate on X?
Gita Wirjawan (@GWirjawan) has an engagement rate of 0.018%, based on the median interactions across 10 original posts from the last 30 days against 913,010 followers. Replies, reposts and quote-posts of other people are excluded from that sample.
Is that a good engagement rate?
At 0.018%, Gita Wirjawan sits above the 10th percentile of the 204,880 accounts in this comparison. Those comparison accounts are all large ones, because our scanning cadence is weighted towards big accounts, so this is a ranking among peers of similar scale rather than a ranking across X.
Does @GWirjawan have real engagement?
Its engagement rate beats 42% of the tracked X accounts closest to it in follower count (20,444 accounts), which puts it in the middle of its size range group. Ranking inside a size band matters because engagement rate falls as accounts grow, so a raw rate would mostly re-measure the follower count. It is a starting point for a look at follower quality, not a verdict on it.
When does @GWirjawan post?
Most posts go out around 06:00 UTC, and Friday is its busiest day, at roughly 0.5 posts per day across the measured window.

Keep going